Laman

Tuesday, 13 March 2012

Ya Allah..!!


{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.} (QS.Ar-Rahman:29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: “Ya Allah!”
Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya Allah!”
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!”
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: “Ya Allah!”
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah: “Ya Allah!”

Saturday, 10 March 2012

Hari Ini Adalah Milik Anda

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan bukan juga esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari anda, dan siangnya menyapa anda inilah hari anda.
Umur anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup anda hanya hari ini, atau seakan-akan anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup anda tak akan tercabik-cabik diantar gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan Al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan penuh sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal. keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Sunday, 4 March 2012

Menang Sebelum Menang

Khubaib.ra adalah seorang sahabat Nabi yang di gelari Syahid di Kayu Salib. Ketika ditawan oleh Musyrikin Quraisy dalam tragedi Ar-Raji', Khubaib.ra telah bersiap menghadapi detik-detik maut yang siap menjemput, di sebuah tempat bernama Tan'im. Sebelum mereka melaksanakan eksekusi, Khubaib.ra minta izin kepada mereka untuk shalat dua rakaat. Mereka mengizinkannya dan menyangka bahwa Khubaib.ra bermaksud menimbang-nimbang dalam dirinya untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Allah, Rasul dan agamanya.

Saturday, 3 March 2012

Maafkan Dengan Ikhlas

"Bila pedang lukai hati, masih banyak harapan obat dicari, Bila lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari"

Pepatah diatas membuat aku berfikir untuk menulis ini.. Ya.. Sepintas membacanya mungkin terlihat begitu indah dan cocok sebagai ungkapan hati atas diri yang telah terluka. Sekaligus juga meyakinkan bahwa tiada satu pun penawar atasnya.

"Kemana obat hendak dicari?,, kemana..??"

Ketahuilah,. pribahasa atau ungkapan diatas bila kita mau jujur, terkesan mengajak dan mengajari kita untuk tidak Memaafkan serta Mengikhlaskan atas apa yang telah terjadi pada diri kita.

Bukan kah kita semua tahu... Memaafkan dan Mengikhlaskan adalah Sifat Mulia seorang hamba..?
Lantas.. Mengapa kita seolah bingung mencari obat penawar atas lukanya hati..??

Percayalah.. Tiada kejadian sekecil apapun yang tanpa Iradat-Nya, semua terjadi atas Kehendak-Nya yang semua itu tiadalah sia-sia.

Aku berfikir.. Alangkah tidak Ikhlasnya aku dengan apa yang telah terjadi pada diriku, sehingga aku tiada mampu Memaafkan dengan ikhlas bahkan bersusah payah hanya untuk melupakan. Sedang yang demikian itu adalah sebuah ketentuan atas Iradat-Nya.

Sebuah renungan pribadi, semoga bermanfaat.

Jazakumullah.

Thursday, 1 March 2012

Harapan-harapan Baru

Saat kehidupan rumah tangga bergulir, banyak harapan-harapan baru lahir. Yang pertama, tentu keinginan menimang si buah hati:anak.

Qaddarallahu maa syaa-a fa'al. Takdir berkata lain. Selama dua tahun lebih menikah, mereka tak juga dikaruniai momongan. Padahal, usia Hamidah sudah mulai menginjak 32 tahun. Usia yang tidak lagi muda untuk seorang wanita. Tentu saja, perasaan mereka cukup berdebar-debar. Menanti hadirnya sebuah karunia, yang tak sebuah rumus pun bisa memastikan wujudnya, tentu bukanlah hal sederhana. Tak selalu mudah untuk melatih ketabahan menjalaninya.

Tapi, tepat memasuki bulan keempat di tahun ketiga pernikahan mereka, berarti dua tahun 3 bulan setelah menikah, Hamidah positif hamil! Kegembiraan menyeruak dalam dada, menyesak, dan nyaris melesat keluar dari mulutnya, berujud jeritan kegembiraan dalam luapan suka cita tak tertahankan.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmushalihat. Segala puji bagi Allah, yang dengan limpahan Karunia-Nya, segala kepentingan dapat terlaksana dengan sempurna. Bukan main! Betapa indahnya dunia ini.

Sembilan bulan 15 hari kemudian, seorang bayi mungil, laki-laki, lahir dengan selamat. Kegembiraan itu pun makin membuncah. Ungkapan Tahmid dan Tasbih makin mengalir deras dari lisan mereka.

Ya, Rabbi, betapa indahnya Kasih-Mu...

Tumpukan harapan bagai menonjok langit. Hadirnya anak tak lain adalah lahirnya karunia, dengan segudang cita-cita terakit bersamanya.

Mereka ingin, sang anak akan menjadi jauh lebih baik dari kedua orang tuanya. Lebih shalih, lebih pintar, lebih berilmu, lebih berbahagia. Pokoknya, lebih segala-galanya.

Lewat kehadiran sang buah hati, mereka berharap kehidupan mereka akan semakin harmonis. Mereka pun semakin saling mencintai, semakin kasih mengasihi. Semakin saling memaklumi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Anak adalah perekat cinta. Begitu kata orang-orang tua kita dahulu. Kalau bukan karena anak, tentu lebih banyak pasangan pasutri yang mengakhiri rumah tangga mereka di bilik perceraian.

Hamidah dan Fahrul pun berharap demikian, bahwa lahirnya sang buah hati akan makin mempererat cinta mereka karena Allah. Menjauhkan mereka dari neraka perceraian yang sangat mereka khawatirkan.

Secara naluriah, setiap manusia pasti memiliki obsesi dan cita-cita yang bersifat keduniaan. Dunia yang berakhir di dunia, atau dunia yang akan dibawa sebagai bekal di akhirat kelak. Yang jelas, cita-cita itu bernuansa duniawi. Karena cita-cita itulah, maka salah satu sifat yang senantiasa melekat pada diri manusia adalah Hammaam, sang Ambisius.

Hamidah dan Fahrul, dari awal menikah, telah mencanangkan sebuah cita-cita sederhana, namun sangat motivatis, dan menghujam kuat di lubuk hati mereka yang dalam: keinginan memiliki Passive Income yang cukup untuk membuat mereka bisa berkonsentrasi penuh menuntut ilmu!

Sinyal-sinyal harapan itu pun makin menyinarkan kemilauannya. Terlebih, saat si Farhan lahir. Fahrul bekerja lebih giat lagi, untuk mencari sumber-sumber penghasilan lain yang lebih menjanjikan. Alhamdulillah, pintu-pintu rezeki itu terkuak sedikit demi sedikit. Hamidah makin sumringah.


Semoga bermanfaat.

Referensi:
Judul: Sepenggal Duka di Langit Cinta.
Penulis: Abu Umar Basyier
Penerbit: Fatamedia