Laman

Tuesday, 13 March 2012

Ya Allah..!!


{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.} (QS.Ar-Rahman:29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: “Ya Allah!”
Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya Allah!”
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!”
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: “Ya Allah!”
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah: “Ya Allah!”

Saturday, 10 March 2012

Hari Ini Adalah Milik Anda

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan bukan juga esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari anda, dan siangnya menyapa anda inilah hari anda.
Umur anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup anda hanya hari ini, atau seakan-akan anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup anda tak akan tercabik-cabik diantar gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan Al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan penuh sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal. keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Sunday, 4 March 2012

Menang Sebelum Menang

Khubaib.ra adalah seorang sahabat Nabi yang di gelari Syahid di Kayu Salib. Ketika ditawan oleh Musyrikin Quraisy dalam tragedi Ar-Raji', Khubaib.ra telah bersiap menghadapi detik-detik maut yang siap menjemput, di sebuah tempat bernama Tan'im. Sebelum mereka melaksanakan eksekusi, Khubaib.ra minta izin kepada mereka untuk shalat dua rakaat. Mereka mengizinkannya dan menyangka bahwa Khubaib.ra bermaksud menimbang-nimbang dalam dirinya untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya kepada Allah, Rasul dan agamanya.

Saturday, 3 March 2012

Maafkan Dengan Ikhlas

"Bila pedang lukai hati, masih banyak harapan obat dicari, Bila lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari"

Pepatah diatas membuat aku berfikir untuk menulis ini.. Ya.. Sepintas membacanya mungkin terlihat begitu indah dan cocok sebagai ungkapan hati atas diri yang telah terluka. Sekaligus juga meyakinkan bahwa tiada satu pun penawar atasnya.

"Kemana obat hendak dicari?,, kemana..??"

Ketahuilah,. pribahasa atau ungkapan diatas bila kita mau jujur, terkesan mengajak dan mengajari kita untuk tidak Memaafkan serta Mengikhlaskan atas apa yang telah terjadi pada diri kita.

Bukan kah kita semua tahu... Memaafkan dan Mengikhlaskan adalah Sifat Mulia seorang hamba..?
Lantas.. Mengapa kita seolah bingung mencari obat penawar atas lukanya hati..??

Percayalah.. Tiada kejadian sekecil apapun yang tanpa Iradat-Nya, semua terjadi atas Kehendak-Nya yang semua itu tiadalah sia-sia.

Aku berfikir.. Alangkah tidak Ikhlasnya aku dengan apa yang telah terjadi pada diriku, sehingga aku tiada mampu Memaafkan dengan ikhlas bahkan bersusah payah hanya untuk melupakan. Sedang yang demikian itu adalah sebuah ketentuan atas Iradat-Nya.

Sebuah renungan pribadi, semoga bermanfaat.

Jazakumullah.

Thursday, 1 March 2012

Harapan-harapan Baru

Saat kehidupan rumah tangga bergulir, banyak harapan-harapan baru lahir. Yang pertama, tentu keinginan menimang si buah hati:anak.

Qaddarallahu maa syaa-a fa'al. Takdir berkata lain. Selama dua tahun lebih menikah, mereka tak juga dikaruniai momongan. Padahal, usia Hamidah sudah mulai menginjak 32 tahun. Usia yang tidak lagi muda untuk seorang wanita. Tentu saja, perasaan mereka cukup berdebar-debar. Menanti hadirnya sebuah karunia, yang tak sebuah rumus pun bisa memastikan wujudnya, tentu bukanlah hal sederhana. Tak selalu mudah untuk melatih ketabahan menjalaninya.

Tapi, tepat memasuki bulan keempat di tahun ketiga pernikahan mereka, berarti dua tahun 3 bulan setelah menikah, Hamidah positif hamil! Kegembiraan menyeruak dalam dada, menyesak, dan nyaris melesat keluar dari mulutnya, berujud jeritan kegembiraan dalam luapan suka cita tak tertahankan.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmushalihat. Segala puji bagi Allah, yang dengan limpahan Karunia-Nya, segala kepentingan dapat terlaksana dengan sempurna. Bukan main! Betapa indahnya dunia ini.

Sembilan bulan 15 hari kemudian, seorang bayi mungil, laki-laki, lahir dengan selamat. Kegembiraan itu pun makin membuncah. Ungkapan Tahmid dan Tasbih makin mengalir deras dari lisan mereka.

Ya, Rabbi, betapa indahnya Kasih-Mu...

Tumpukan harapan bagai menonjok langit. Hadirnya anak tak lain adalah lahirnya karunia, dengan segudang cita-cita terakit bersamanya.

Mereka ingin, sang anak akan menjadi jauh lebih baik dari kedua orang tuanya. Lebih shalih, lebih pintar, lebih berilmu, lebih berbahagia. Pokoknya, lebih segala-galanya.

Lewat kehadiran sang buah hati, mereka berharap kehidupan mereka akan semakin harmonis. Mereka pun semakin saling mencintai, semakin kasih mengasihi. Semakin saling memaklumi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Anak adalah perekat cinta. Begitu kata orang-orang tua kita dahulu. Kalau bukan karena anak, tentu lebih banyak pasangan pasutri yang mengakhiri rumah tangga mereka di bilik perceraian.

Hamidah dan Fahrul pun berharap demikian, bahwa lahirnya sang buah hati akan makin mempererat cinta mereka karena Allah. Menjauhkan mereka dari neraka perceraian yang sangat mereka khawatirkan.

Secara naluriah, setiap manusia pasti memiliki obsesi dan cita-cita yang bersifat keduniaan. Dunia yang berakhir di dunia, atau dunia yang akan dibawa sebagai bekal di akhirat kelak. Yang jelas, cita-cita itu bernuansa duniawi. Karena cita-cita itulah, maka salah satu sifat yang senantiasa melekat pada diri manusia adalah Hammaam, sang Ambisius.

Hamidah dan Fahrul, dari awal menikah, telah mencanangkan sebuah cita-cita sederhana, namun sangat motivatis, dan menghujam kuat di lubuk hati mereka yang dalam: keinginan memiliki Passive Income yang cukup untuk membuat mereka bisa berkonsentrasi penuh menuntut ilmu!

Sinyal-sinyal harapan itu pun makin menyinarkan kemilauannya. Terlebih, saat si Farhan lahir. Fahrul bekerja lebih giat lagi, untuk mencari sumber-sumber penghasilan lain yang lebih menjanjikan. Alhamdulillah, pintu-pintu rezeki itu terkuak sedikit demi sedikit. Hamidah makin sumringah.


Semoga bermanfaat.

Referensi:
Judul: Sepenggal Duka di Langit Cinta.
Penulis: Abu Umar Basyier
Penerbit: Fatamedia

Wednesday, 29 February 2012

Bila Hati Dimabuk Cinta


Ada dua hal yang membuat mabuk, Mabuk  cinta dan Mabuk karena kecanduan minuman keras.
Kapankah orang yang selalu mabuk bisa sembuh?

Dalam Syair lain :
Mereka berkata: “Engkau tergila-gila dengan orang yang kau cinta!”
Aku katakan: “Mabuk cinta lebih gila daripada gilanya orang gila.”
Gila karena jatuh cinta tidak akan sadar selamanya. Adapun orang gila, akan kambuh pada waktu tertentu saja.”

Ibnu Taimiyah berbicara tentang hakikat ‘isyq: “Al-Isyqu (mabuk asmara) adalah rusaknya nalar, khayal dan pengetahuan seseorang. Sebab, orang yang dimabuk asmara akan selalu mengkhayalkan kekasih hatinya tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, hingga akhirnya penyakit ini menimpa dirinya.
Kalaulah dia tahu secara mendalam orang yang dikaguminya, ia tidak akan sampai dimabuk cinta, walaupun sudah terjalin rasa cinta dan hubungan dalam dirinya.

Ibnu Taimiyah melanjutkan: “Al –‘Isyq adalah cinta yang berlebihan hingga melebihi batas yang dibolehkan. Jika seorang terjerumus kedalamnya dia akan tercela dan binasa. Penyakit ini mampu merusak hati dan jasmani.

Banyak sekali perkataan alim ulama,penyair,para pujangga dan orang-orang yang pernah menjadi korban penyakit ini yang menerangkan betapa besar bahayanya.
Diantara mereka ada yang berkata: “ Jika seorang anak manusia mengarungi lautan asmara (Al-Isyq) dia akan dipermainkan oleh derasnya gelombang ombak, dan hamper saja tidak bias selamat dari gelombang  tersebut.”

Para ahli hikmah berkata : “Gila memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah mabuk asmara.”
Mereka juga berkata: “Berapa banyak orang yang jatuh cinta yang akibatnya merusak harta, martabat, diri, keluarga, maslahat agama dan dunianya.”
Mereka berkata: “Al-Isyq adalah penyakit kronis yang akan merusak jiwa, menghilangkan ketentraman, bahkan penyakit ini ibarat lautan berombak yang akan menenggelamkan siapapun yang mengarunginya. Penyakit ini laksan samudra yang tak bertepi. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat selamat darinya.

Seorang pujangga berkata:
Mabuk asmara melenakan diri dari seluruh kebaikan, Mabuk cinta menghilangkan kenikmatan.

 Abu Tamam berkata:
Cinta adalah siksa yang mendera
Bila ia merasuki jiwa
Datanglah derita diatas derita.

Ibnu Hushainah menerangkan dalam bait syairnya tentang bahaya mabuk cinta sambil memperingatkan orang yang belum terjerumus kedalam jeratannya:
Mabuk cinta selalu menarik jiwa  kepada kehancurannya,
Betapa cemburunya aku kepada orang yang tak mengalaminya.
Abdul Muhsin As-Suri berkata:
Tiadalah cinta melainkan jalan yang penuh bahaya, Sulit selamat darinya dan jalan yang licin.”
Ada yang berkata; “Banyak kami saksikan orang-orang yang tersesat dalam perangkap cinta, tak kuasa  melepaskan dirinya meskipun dia menginginkannya.”
Al-Khara’thi berkata: “Abu Ja’far Al-‘Abdi pernah melantunkan syair padaku:
Jika Allah menyelamatkanku dari jeratan cinta, aku tidak akan mengulanginya.
Dan aku tidak akan mnerima orang yang mencelaku karenaya
Tapi siapakah yang dapat menyelamatkanku dari jeratan cinta??
Setelah panah asmara menjerat dengan jaringnya?


Referensi:
Judul Buku: Bila Hati Dimabuk Cinta
Penulis: Muhammad Ibrahim Al-Hamd
Penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari
Penebit: At-Tibyan Solo

Tuesday, 28 February 2012

Sabar....Sabar...

    KUPATUT DIRI didepan cermin. Jilbab biru langit jadi pilihan. Bros perak berbentuk pita kusematkan, membuat jilbab yang kupakai takkan mudah disibakkan angin. Berangkat dari rumah, hati ini masih dag dig dug. Tapi sisi hati lainnya berusaha menentramkan hati yang resah dan khawatir.
    "Tenang saja, kuatkanlah hatimu, bukankah semuanya karena Allah?!" suara hati yang satu makin menonjolkan dorongannya.
    "Tapi aku ragu, dan sedikit takut kalau nantinya tak berjalan lancar.....," bisik hati yang lain. "Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sampai akhirnya nafasmu tinggal satu-satu? Sampai malaikat maut menarik Rohmu hingga ke leher?" berondang hati yang satu.
    "Ayolah... raihlah ridha-Nya, berjalanlah dijalan-Nya, kejarlah dan iringilah langkah sahabat-sahabatmu yang telah lebih dulu mendapat cahaya-Nya!" suara hati itu makin memantapkan diriku.
    "Bisnillahirrahmanirrahim..." ucapku dalam hati. Kumantapkan hati, kuteguhkan diri, kulangkahkan kaki. Tetapi.........
    "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, kami telah beriman, sedangkan mereka tidak di uji?" (QS.Al-Ankabut:2).
    Jilbab biruku sedikit berkibar tertiup angin sore diawal musim panas. Kota Nagoya hari ini sangat panas. Kumasuki supermarket itu dengan sedikit kikuk. Tidak seperti biasanya, kali ini ada perasaan lain dihatiku. Iya, kali ini kumasuki supermarket ini dengan penampilan baruku.
    "Ah...... masih agak sepi, nih," batinku senang. "Sebaiknya aku cepat-cepat saja, ah.... daripada nanti antri dikasir," putusku kemudian. Walaupun aku berbelanja barang yang sudah kutahu dimana letaknya, tak urung itu pun memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sehingga banyak pasang mata melihatku dengan pandangan aneh. Mungkin juga ada perasaan geli. Aneh karena pakaianku itu tidak lazim di negeri Sakura, juga menggelikan karena dipakai saat musim panas. Yang bagi orang Jepang terutama para perempuan adalah saatnya untuk buka.
    Selesai sudah kudapatkan barang belanjaan yang kuperlukan. Aku bergegas menuju kasir yang agak lowong. "Yap... dikasir itu tinggal seorang pembeli yang dilayani. Aku antri di situ aja, ah...." pikirku sambil berjalan ke kasir itu.
    "Ah.... selamat siang....," sapa laki-laki separuh baya yang menjaga kasir. Wanita separuh baya yang si sapa segera menghampiri dan meletakkan belanjaanya di meja kasir. Padahal aku kan lebih dulu sampai di kasir itu. Aku hanya melihat sekilas lirikan si Bapak itu. Aku segera berpindah ke kasir lain, yang sudah kosong. Khawatir di tolak lagi, aku berkata kepada perempuan penjaga kasir itu "li desu ka?" (Bolehkah?).
    Sepulang dari supermarket itu hati diliputi rasa jengkel dan kesal sekaligus takut. Takut kalau belanja di situ lagi akan ditolak seperti tadi. Aku khawatir akan kejadian tadi akan berulang dan bukan hanya di supermarket itu saja. Tapi lebih takut lagi kalau kemantapan hatiku untuk terus memakai Hijab menjadi luntur.
    Aku harus bersabar. Sabar....Sabar.....
    "Ah.... tidak! Jangan sampai!" tegasku dalam hati. Aku di hantui berbagai pikiran buruk dan bisikan-bisikan yang menyuruhku mengurungkan niat memakai Jilbab seterusnya. Jangan sampai hanya gara-gara kejadian tak mengenakkan tadi menyurutkan niatku. Aku tak mau lagi bongkar pasang Jilbab. Pergi ngaji pakai Jilbab, pergi kerja bongkar lagi.
    "Tidak. Tidak lagi! Jangan perturutkan rasa malu. Jangan kalah sama diri sendiri!" bisikku kuat. Aku tak mau masuk ke dalam golongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Aku tak mau pahala-pahalaku terhapuskan karenanya. Dan yang pasti aku tak mau menjadi penghuni neraka.
    Aku harusnya malu kepada Yang Maha Tahu. Aku harusnya Takut kepada Yang Maha Kuasa. Aku harusnya khawatir ditilak oleh-Nya.

Ya Allah....
Kuatkan hamba tuk mencapai ridha-Mu
Jadikan hamba insan yang lurus
Tunjukkan hamba jalan yang satu
Jalan mencapai Surga Firdaus.


Referensi : Menyemai Cinta di Negeri Sakura/Lizsa Anggraeny-Seriyawati

Friday, 24 February 2012

KLASIFIKASI HATI

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya Thibb al-Qulub menjelaskan mengenai kondisi hati manusia. Menurutnya ada 3 kondisi hati manusia: hati yang sehat, hati yang mati, dan hati yang sakit.

1.HATI YANG SEHAT/HATI YANG LEMBUT.
Hati yang bebas dari seluruh syahwat (keinginan) untuk melanggar larangan Allah SWT, bebas dari berhukum dengan hukum yang bukan berasal dari Rasul-Nya, cinta kepada Allah SWT, tidak menduakan rasa takut, harapan, dan tawakkalnya kepada Allah SWT semata, inilah hati yang sehat menurut Ibnu Qayyim.
Jadi, hati yang sehat terbebas dari kesyirikan, hati yang sehat selalu menyucikan penghambaan-Nya pada Allah SWT. Dalam kehendak, cinta, tawakkal, taubat, takut, dan harap. Hati yang sehat adalah hati yang bersih bersinas cerah.
Selain itu, hati yang sehat akan mampu "meliiat" arti kehidupan. Ia senantiasa optimis merasakan kehidupan yang silih berganti ini. Terkadang, kesusahan yang ia rasakan menjadi kebahagian. Ia selalu dalam keindahan. Ia tidak pernah mengeluh. Baginya bersyukur pada Allah SWT adalah obat penghibur badai kehidupan. Ia tidak mudah putus asa. Ia yakin rahmat Allah SWT senantiasa tercurah untuknya.
"Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS.AS-SYU'ARAA:88-89)

2.HATI YANG MATI/HATI YANG KERAS

Ibnu Qayyim menerangkan mengenai hati ini: "... Itulah hati yang mati, yang tidak mengenal Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai perintah-Nya. Hati yang selalu memperturutkan hawa nafsu dan kesenangannya, meski yang demikian itu mendatangkan amarah dan murka Allah SWT. Dia tidak peduli apakah akan memuaskan nafsu dan hasratnya, Tuhan rela atau murka. Hati seperti ini menjadi budak selain Allah dalam cinta, takut, rela, murka, mulia, dan hina. Bila ia bercinta karena hawa nafsunya, bila marah juga karena hawa nafsunya, bila memberi karena keinginannya untuk memberi, dan bila menahan karena nafsunya melarang untuk memberi. Hawa nafsunya lebih di cintai daripada Tuhannya. Hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai pemimpinnya, kebodohan sebagai sopirnya, dan lalai sebagai kendaraannya."
penjelesan Ibnu Qayyim diatas menunjukkan bahwa hati yang mati semakin mengeras. Perlahan-lahan tingkat kekerasannya semakin tidak terkendali lagi. Hati ini bahkan lebih keras daripada Batu. Nau'udzu billah, semoga Allah SWT senantiasa menghidupkan hati ini dan memberikan keselamatan di dunia dan akhirat.

3.HATI YANG SAKIT

Hati ini hidup, tetapi cahanya redup (sakit). Hati seperti ini mempunyai dua materi utama, yang terkadang salah satunya lebih dominan dari yang lain.
Di satu sisi,hati ini memiliki rasa cinta pada-Nya, menaruh rasa percaya pada-Nya, ikhlas tunduk pada-Nya, dan senantiasa mengharap pertolongan-Nya.
Akan tetapi,disisi lain dalam hati ini juga terdapat rasa cinta mendalam terhadap hawa nafsunya, seperti lebih mengutamakan dunia, sikap iri, dengki, dan sombong.
Hati seperti itulah yang sering terombang-ambing. Ia tidak tahu harus berlabuh di dermaga yang mana, terkadang ia tersesat, atau menyesatkan diri. Dan terkadang pula ia berada pada jalur yang benar. Hati yang terombang-ambing itulah yang menyebabkan ia sakit.
Ibnu Qayyim menyimpulkan:
"Hati seperti ini menjadi objek seruan dari dua sisi. Satu sisi mengajaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, sedang sisi lain mengajaknya kepada kemewahan duniawi. Dari keduanya, hati akan memenuhi ajakan mana yang pintunya lebih dekat kepada-Nya (kembali kepada kesadaran individu masing-masing.)"

Referensi: SMART HEART-RUSDIN.S.RAUF

Pelapang Dan Penyempit Hati

Beberapa faktor yang bisa melapangkan hati ialah kekuatan Tauhid, Hidayah dan Cahaya yang Allah SWT tancapkan dalam hati hamba-Nya, Ilmu yang bermanfaat, Bertaubat kepada Allah SWT, Senantiasa berzikir kepada Allah SWT, Berbuat baik kepada sesama makhluk, Berani, Menghilangkan virus hati, Tidak berlebih-lebihan dalam memandang, Berbicara, Mendengar, Bergaul, serta Makan dan Minum. Sedangkan kebalikan dari semua sifat ini adalah pemicu Kegelisahan, Kegundahan, Kegalauan dan Penderitaan.
Dalam diri Nabi Muhammad SAW telah terangkum sifat-sifat terpuji nan luhur dalam cakupan yang sangat sempurna. Di samping itu, para pengikut beliau memperoleh bagian dari sifat-sifat ini sesuai kadar peneladanan mereka terhadap beliau.
Semoga Allah SWT memberikan Taufik-Nya.

Referensi: Ad-Daqa'iq Al-Mumti'ah - Abdul Malik Al-Qasim.

Memahami Takdir Ilahi


SEPULUH TANDA HATI MATI.....
01. KITA MENGAKU KENAL DAN CINTA ALLAH SWT TAPI TIDAK MENUNAIKAN PERINTAH-NYA

02. KITA MENGAKU CINTA RASULULLAH TAPI MENGABAIKAN SUNNAHNYA

03. KITA MEMBACA AL'QURAN TAPI TIDAK BERAMAL DENGAN HUKUM-HUKUM DI DALAMNYA

04. KITA MEMAKAN NIKMAT ALLAH SWT TAPI TIDAK MENSYUKURI PEMBERIAN-NYA

05. KITA MENGAKU MUSUH SEYTAN TAPI MENGIKUTINYA

06. KITA MENGAKUI NIKMAT SURGA TAPI TIDAK MAU BERAMAL UNTUK MENDAPATKANNYA

07. KITA MENGAKUI ADANYA SIKSA NERAKA TAPI TIDAK BERUSAHA MENJAUHI NYA

08. KITA MENGAKUI BAHWA KEMATIAN AKAN DATANG PADA SETIAP JIWA TAPI TIDAK BERUSAHA MEMPERSIPKAN BEKALNYA

09. KITA SIBUK MEMBUKA AIB ORANG LAIN,TAPI TIDAK PERNAH INGAT AKAN AIB DIRI SENDIRI

10. KITA MENGHANTAR DAN MENGHUBUR JENAZAH TAPI TIDAK MENGAMBIL HIKMAHNYA


LIMA PERUSAK KEDAMAIAN HIDUP....

01. MEMBANDINGKAN KEKURANGAN DIRI DENGAN KELEBIHAN ORANG LAIN

02. BERSIKAP KASAR TENTANG SESUATU YANG BISA DI TANGANI DENGAN SANTUN

03. MENUNDA MELAKUKAN SESUATU SAAT ITU MASIH MUDAH MELAKUKAN

04. MEYAKINI BAHWA HANYA ORANG TIDAK JUJUR YANG AKAN MENDAPAT KESEMPATAN

05. MELIHAT KEBERHASILAN ORANG LAIN SEBAGAI KEBERUNTUNGAN DAN KESULITAN HIDUP DIRI SENDIRI SEBAGAI NASIB


SEBELAS TANDA-TANDA ORANG CELAKA

01. Rakus untuk mengumpulkan harta

02. Tujuan hatinya hanya kesenangan,nafsu dan kelezatan dunia

03. Kotor bicaranya dan banyak menggunjing orang

04. Meremehkan sholat lima waktu

05. Pergaulannya bersama orang-orang durhaka

06. Buruk budi pekertinya

07. Membanggakan dirinya dan congkak

08. Menahan diri untuk memberi manfa'at kepada orang lain

09. Sedikit sekali rasa sayangnya terhadap orang-orang mukmin

10. Menjadi orang yang kikir

11. Lupa terhadap mati...


KETAHUILAH SETIAP SESUATU PASTI ADA PENYAKITNYA.....

01. PENYAKIT BICARA ADALAH BOHONG

02. PENYAKIT ILMU ADALAH LUPA

03. PENYAKIT IBADAH ADALAH RIY

04. PENYAKIT AKHLAK MULIA ADALAH KAGUM KEPADA DIRI SENDIRI

05. PENYAKIT BERANI ADALAH MENYERANG

06. PENYAKIT DERMAWAN ADALAH MENGUNGKAPKAN PEMBERIAN

07. PENYAKIT TAMPAN ADALAH SOMBONG

08. PENYAKIT BANGSAWAN ADALAH MEMBANGGAKAN DIRI

09. PENYAKIT MALU ADALAH LEMAH

10. PENYAKIT MULIA ADALAH MENYOMBONGKAN DIRI

11. PENYAKIT KAYA ADALAH KIKIR

12. PENYAKIT ROYAL ADALAH HIDUP MEWAH

13. PENYAKIT AGAMA ADALAH NAFSU YANG DI PERTURUTKAN


ORANG DI KATAKAN ISLAM BILA :

01. MEMBACA DUA KALIMAT SYAHADAT

02. MENJALANKAN SHALAT

03. BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

04. MEMBAYAR ZAKAT

05. MENUNAIKAN IBADAH HAJI(BILA MAMPU).

TANYA KENAPA:
01. KENAPA KITA PERNAH MERASKAN PATAH HATI

02. KENAPA KITA PERNAH MERASAKAN SEDIH.

03. KENAPA KITA PERNAH MERASAKAN JENUH DALAM MENGHADAPI HIDUP INI

04. DAN KENAPA PULA KITA PERNAH MERASAKAN HAL-HAL YANG KURANG BERKENAN DI HATI.JAWABANNYA ADALAH KARENA KITA TIDAK MEMAHAMI TAKDIR ILAHI SECARA HAYATI...

Thursday, 23 February 2012

Menjadi Khotib Sholat Jum'at

SETIAP JUM'AT, PARA KHOTIB NAIK KEATAS MIMBAR untuk menyampaikan pesan dakwah. Karena mulianya tugas seorang khotib, maka dituntut untuk mengerti kehidupan dan tantangan-tantangannya, memahami kandungan Al-Qur'an agar dapat meluruskan dan menyembuhkan Batin manusia yang luka, menyatukan hati yang bertengkar, mendinginkan yang sedang marah, melunakkan hati yang keras, memberantas syirik, melapangkan hati yang sempit, dan menjadikan orang merasa memerlukan Allah SWT dan hanya menggantungkan hidup kepada-Nya.
Terkait hal ini, Rasulullah SAW adalah khotib terbesar yang pernah ada dimuka bumi. Hal itu Allah sendirilah yang mendidik Beliau secara langsung.

Diriwayatkan, pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, saya sudah menemui seluruh kabilah Arab, satu demi satu saya datangi. Saya tidak menemukan seorang pun yang lebih fasih dari pada Rasulullah. Siapa yang mendidik Anda?" Rasulullah menjawab, "Tuhanku yang mendidikku. Dia mendidikku dengan baik."
Dibawah ini adalah adab menjadi khotib seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah :

* Hendaknya sudah duduk di atas mimbar ketika sedang diserukan azan shalat jum'at. (Riwayat     Bukhari).
* Sunnah berkhutbah di atasmimbar dan memulai khutbah dengan memberi salam kepada jama'ah. (Riwayat Ibnu Majah,Bukhari).
* Hendaknya menghadap keseluruh jama'ah, jangan menghadap hanya kepada sebagian orang atau ke satu arah.
* Disunnahkan memulai khutbah dengan puji-pujian kepada Allah,lalu Shalawat atas Rasulullah. (Riwayat Bukhari).
*Duduk diantara dua khutbah (Riwayat Bukhari).
* Disunnahkan agar meringkas isi khutbah sehingga lebih pendek daripada shalat. (Riwayat Abu Dawud). Seorang khatib yang terampil meringankan khutbahnya menandakan ia sosok orang yang bijak. Sebaliknya, khatib yang memanjangkannya menunjukkan kekurang bijaksanaan.
* Sebaiknya yang menjadi khatib adalah imam dan yang yang menjadi imam adalah khatib. Jadi imam dan khotib adalah orang yang sama. (Riwayat Bukhari).
Khatib hendaknya berkhutbah dengan semangat yang berapi-api. (Riwayat Muslim,Ibnu Majah). Ibnu Qayyim dalam Zaadul Ma'aad menulis, "Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah, mata beliau memerah, suara beliau lantang, amarah beliau meledak seolah-olah memberi peringatan kepada pasukan.

Wallahu 'alam
Disadur: Ali Athwa/Hidayahtullah

Kemana aku harus pergi?

Namaku Arfa, duduk dibangku sekolah dasar swasta kelas 5. Saat ini Ayah dan ibu ku bercerai, aku hidup dan tinggal bersama ayah serta seorang adik yg sekarang udah kelas 2 SD, sementara Ibu menikah lagi dgn orang lain. Meski aku tinggal bersama ayah, sesekali juga aku datang dan menginap dirumah ibu yg telah bersuami lagi (ayah tiri). Dirumah, ayah mendidik ku begitu keras, hingga suatu hari ayah pernah mencambuk ku dgn menggunakan ikat pinggang org dewasa,. Aku tau itu adalah didikan seorang ayah kpd anaknya, tp apakah tdk ada cara lain utk mendidik anak seusia ku?? tanpa harus mencambuk bahkan memukulku,.!! Ayah maafkan aku..!! Beberapa hari ini aku tdk masuk sekolah,. Aku hijrah ke tempat ibuku, Seminggu lamanya... Suatu sore usai hujan deras mengguyur desaku, ibu berpesan... "Kembalilah ke Ayahmu, insya Allah Ramadhan nanti, kalau jadi pulang kampung, ibu akan ambil kamu dan kita berangkat bersama-sama,. disana kamu bisa Sekolah dan tinggal dgn kakek dan nenekmu..." tanpa pikir panjang, aku pun pergi meninggalkan rumah menuju rumah tempat ayahku.. Berat rasanya langkahku, mengingat ayah yg begitu keras terhadapku, tak sanggup utk pulang kembali bersama Ayah.. Kemana aku harus pergi..??
Lelah aku berjalan hingga ku temui sebuah Mesjid dan aku berhenti.. Dengan pakaian sekolah bekas pemberian org menggunakan celana pendek, aku masuk ke dalam. Disini aku akan tidur, dingin sekali..... Tiba-tiba seorang Laki-laki datang menghampiri kemudian membangunkanku.. Dik..!! (sambil menyentuh kakiku) Dik.. Bangun, tidurnya dikamar depan,disini dingin dan banyak nyamuk. Aku pun terbangun,tanpa fikir panjang aku segera beranjak dan mengikutinya menuju kamar dpn mesjid yg dimaksud. "kamu tidur disini aja" ucap bapak itu, di dalam kamar tersebut ternyata ada beberapa org lelaki juga yg tinggal disitu dan akan menemaniku.., "ini bantal dan sarungnya, kalau uda ngantuk tidur aja" dan "kalo lapar ini ada kue,ato mau makan nasi goreng ntar dibeliin.." ucap salah seorang dari mereka sambil memberiku bantal dan sarung,
Mata mereka memandangku, heran atau mungkin iba melihatku,.. Bapak dan beberapa org td mencoba utk mencari informasi tentangku,tentang ayah dan ibuku., aku pun di introgasi.... Dan akhirnya Semua ku jawab apa adanya...

Semoga kisah ini dapat diambil hikmahnya, untuk kita semua.

(anak tersebut sudah tertidur saat tulisan ini dibuat).

Jazakumullah..